Theme Layout

Boxed or Wide or Framed

Theme Translation

Display Featured Slider

yes

Featured Slider Styles

[Boxedwidth]

Display Trending Posts

yes

Display Instagram Footer

No

Dark or Light Style

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama


melahirkan

Kalau ditanya bagaimana pengalaman melahirkan anak pertama sebenarnya bisa dikisahkan menjadi banyak sekali tulisan. Pengalaman melahirkan anak pertama adalah hal luar biasa yang pernah aku alami. Merasakan sebuah rasa yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Sebuah proses yang merubah panggilanku menjadi seorang bunda. Panggilan yang sangat aku suka.

Melahirkan anak pertama 

Kata-kata melahirkan anak pertama awalnya agak ngeri-ngeri untukku. Habisnya kebanyakan cerita horor saat melahirkan. Apalagi kabarnya melahirkan anak pertama agak lebih susah dari melahirkan yang ke-2 ke-3 dan seterusnya. Kabar-kabar yang kadang bikin paranoid sendiri.

Aku mempersiapkan kelahiran anakku Ichi saat aku memasuki umur 29 tahun. Umur yang aku anggap sudah sangat dewasa untuk menghadapi hal ini, tapi ya tetap aja parno melanda. Pernah lho terlintas untuk melahirkan secara caesar, gara-gara aku dapat informasi dari seorang teman kelebihan caesar, katanya kita bisa lahiran tanpa merasa sakit yang amat sangat. Tapi setelah searching di dunia maya eh malah parah juga, efek setelah melahirkan juga lebih arah dari lahrian normal.

Waktu itu 28 Mei 2018 aku masih sibuk keliling ke berbagai kelurahan guna mempersiapkan pelatihan di masyarakat bulan Agustus 2018. Walau perut sudah sangat besar dan hari kelahiran anakku sekitar 2 minggu lagi aku tetap keliling. Ya...maklum, aku masih berstatus sebagai seorang pekerja yang hanya akan mendapatkan cuti selama 40 hari setelah melahirkan. Tidak ada istilah cuti sebelum melahirkan.

Sewaktu keliling antar kelurahan aku masih ok, badan terasa sehat dan bahagia, alhamdulillah. Aku juga sempat ikut teman-teman ke pasar untuk cari baju lebaran. Yup, betul sekali, saat itu adalah bulan ramadhan. 

Pukul 5 sore aku sudah sampai di rumah dan semuanya biasa saja. Kemudian tiba-tiba sekitar pukul 6 sore aku berasa pengen pipis dan sewaktu di WC aku melihat darah. Astagah, aku mengeluarkan darah, hanya flek memang tapi cukup membuatku khawatir. Aku meminta pak suami mendaftar ke praktek dokter di depan rumah, eh ternyata selama bulan ramadhan dia buka prakteknya sampai jam 6 sore saja.

Itu tandanya aku tidak bisa cek dengan dokter di dekat rumah. Ibu menyarankanku untuk pergi ke nenek urut di dekat rumah, katanya dulu nenek sering membantu orang melahirkan. Coba cek dengan beliau kata ibu Selepas magrib aku da suami ke rumah nenek dan beliau memegang perutku. Beliau bilang "wah, sebentar lagi ini sepertinya, bayinya sudah mau turun. Tapi tidak malam ini. Kami pun pamit pulang dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Makan malam lalu tidur. 

Sekitar pukul 2 malam aku merasakan sakit yang unik. Gimana ya, kalau aku merasakannya bukan sakit yang amat sangat, tetapi berbeda. Ini mirip dengan perut melilit dan akan berasa lebih sakit kalau aku diam. OK, aku mulai bergerak dan rasanya baikan. Ini terus berlanjut sampai pukul 3 pagi. Waktunya orang-orang di rumah makan sahur. Aku membangunkan suamiku dan bilang kalau perutku sakit. 

Orang-orang di rumah bangun dan makan sahur. Uniknya rasa sakit itu hilang dan mulai terasa sakit lagi saat azan subuh. Aku meminta adik-adikku (Ardi dan Daurez) pergi memanggil bidan dekat rumah selepas subuh. Selepas solat subuh mereka pergi memanggil bidan. Sesampainya di rumahku bidan menanyakan apa ada keluar flek. Aku menjawab iya dan dia langsung permisi untuk periksa sambil memasang sarung tangan. 

Heran juga kok bidannya pakai sarung tangan gitu pikirku. Ternyata ......dia memasukkan tangannya ke jalan keluar bayi. Ya Allah ini rasanya lumayan. Bisa dibayangkan rasanya, karena tangan orang dewasa kan besar. Seletah mengeluarkan tangannya dia bilang "Sudah bukaan 5".

Whaaaatt? Bukaan 5?

Aku memutuskan untuk lahiran dengan bidan saja di rumah supaya tidka repot kemana-mana. Ternyata ke bidannya bayar Rp 1.500.000,- kerena si bidan belum kerjsasama dengan BPJS, ga jadi deh kalau gitu. Akukan ikut BPJS, kalau bayar apa gunanya bayar iuran selama ini. Iya kan? Kami memutuskan berangkat ke rumah sakit Kota Bengkulu. Untung tidak banyak yang perlu disiapkan karena aku sudah menyiapkan perlengkapan bayi dan melahirkan dari jauh hari dalam sebuah kotak siap angkut. 

Pukul 6 pagi kami berangkat ke rumah sakit. selama perjalanan aku tak sanggup duduk, nafasku pendek-pendek menahan sakit. Posisi perut mulai berubah, sepertinya si bayi siap keluar. Sesampainya di rumah sakit aku dan pak suami langsung masuk ruang persalinan, aku cerita kalau tadi di rumah dicek dengan bidan dekat rumah sudah bukaan 5. Masih lama itu kata mereka.

Proses Lahiran Ichi

Sekitar pukul 7 pagi aku merasakan sakit dan aku bilang ke bidan yang kebetulan melintas di ruangan. Dia cek perutku dan ternyata sudah bukaan 10. "Siapa yang bilang ini bukaan 5 tadi? Ini sudha bukaan 10" katanya. Pertanda bahwa dedek bayi sudah siap keluar melihat dunia. Para bidan yang ada di ruangan langsung mempersiapkan peralatan dan mulai membimbingku melahirkan.

Sebelum lahiran mereka mengingatkan:
  1. Untuk tidak mengangkat pantat dari kasur
  2. Untuk mengejan dengan sekuat tenaga
  3. Untuk yakin kalau semuanya akan berjalan lancar
Proses lahiran dimulai dan aku mulai mengejan. Aku dimarahi saat mengejan, katanya "Jangan angkat pantatnya bu! Nanti robek dimana-mana. Lah aku yang sedang kesakitan mana tahu angkat pantat atau tidak. Kalau perasaan sih ga ya. Mungkin aku tanpa sadar mengakat pantatku saat mengejan. Aku tidak ambil pusing dan kembali mengejan. Saat mengejan tiba-tiba aku lihat salah seorang dari mereka memegang gunting dan "bret" menggunting sesuatu. Katanya untuk memudahkan jalan keluar bayi. Kemudian hanya satu kali mengejan Ichi sudah lahir. Waktu itu pukul 7.30 pagi. Beruntung pak suami stand by di sebelahku selama proses melahirkan berlangsung. Motivasi dari pak suami juga membuat proses melahirkan lebih lancar.

Semua rasa sakit hilang. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Pantasan banyak yang bilang kalau melahirkan itu mirip dengan BAB. Setelah semuanya keluar terasa sangat melegakan. 

Masya Allah, aku menjadi seorang bunda. Aku lihat anakku begitu mungil dan menangis, baiklah berarti pita suaranya bagus. Kemudian anakku diletakkan di dadaku. Matanya belum terbuka dan mulai mencari puting susu, lucu sekali. Sayang anakku tidak diberi kesempatan lama untuk mencari puting susu. Dia segera diambil untuk dibersihkan.

Kemudian masuklah proses yang menurutku lebih "wah" dari melahirkan, "Proses menjahit" robek. Lah iya lah robek wong tadi kan memang digunting. Hmmm...mereka juga bialng robeknya banyak karena aku mengangkat bokongku saat melahirkan. Selama proses jahit mereka juga memarahiku karena mengangkat bokong, "lama prosesnya kalau gini" begitu kata mereka. Padahal perasaan aku tidak mengangkat bokongku. Aku benar-benar tidak paham maksud mereka.

Aku berusaha mengikuti permintaan mereka untuk menahan badanku saat menjahit. Proses ini aku akui sebagai proses yang lebih melelahkan dari melahirkan. Aku dijahit tanpa bius. Kalau katanya sih supaya lukanya cepat sembuh. Kalau demi cepat sembuh aku mau walau sakit. aku menahan sakit sambil menggigit kain.

Setelah proses jahit selesai aku dipindahkan ke ruangan rawat. Anakku masih di ruang bayi. Tak lama setelah aku di ruang rawat anakku dibawa ke dekatku dan aku diperbolehkan menggendongnya. Karena aku melahirkan normal kami diminta segera mengurusi administrasi dan diperbolehkan pulang. Sesudah zuhur kami pulang.

Alhamdulillah proses lahiran anak pertama berjalan dengan lancar.
QuickEdit

You Might Also Like

No comments

Post a Comment

[name=Zefy Arlinda] [img=http://res.cloudinary.com/momsodell/image/upload/v1521166151/Zefy.jpg] [description=Hai Saya Zefy, Hobi Makan-makan | Memasak | Jalan-Jalan.] (facebook=https://www.facebook.com/arlindazefy) (twitter=https://twitter.com/zarlinda) (instagram=https://www.instagram.com/zefyarlinda/)